Sabtu, 07 Juli 2012

Bedah Novel Hitam Putih Dunia Angel

Tumben2nya acara hari ini selesai jam 3 sore, biasanya jam 11 atau 12 malam. Mumpung ada waktu lowong di sore hari, mending jalan-jalan. Mumpung lagi di Bandung (lagi).

Biar ga jauh-jauh, bersepakatlah dengan Mas Faatih dan Mbak Wulan kita ke BEC (Bandung Electronic Center); selain ingin liat2 HP dan kompie, juga cari nomor cantik, siapa tau ada yang bagus. Bukan karena alasan hoki2an, tapi keren aja rasanya punya nomor cantik.

Setelah puas eksplorasi BEC, lanjut ke Gramedia Merdeka Bandung. Kebetulan ada obral buku murah, walaupun ada kata ‘mulai’ di depan angka 5 ribu rupiah. Kebetulannya lagi, ada bedah buku. Tapi sepertinya lebih sreg nyebutnya bedah novel. Judulnya ‘Hitam Putih Dunia Angel’. Tokoh utama sekaligus pengarang novel tersebut, Angelina Julia, hadir bersama dengan pengamat sastra Aming D. Rachman. Dari dengar sayup2 wawancara terhadap mereka, tampaknya novel tersebut menarik.





Bagi yang tertarik, berikut sinopsis novel Hitam Putih Dunia Angel.

Angel, seorang gadis keturunan Tionghoa, harus menelan pil pahit kehidupan sejak dilahirkan. Orang tua kandungnya menjual Angel kepada seorang dokter karena tidak mampu membayar biaya persalinannya di sebuah rumah sakit kecil di Medan.

Mama angkatnya memboyong Angel ke Jakarta dan melimpahinya dengan fasilitas mewah. Namun, rumah tangga yang selalu gagal telah membuat Mamanya melampiaskan segala kemarahannya kepada Angel. Tidak hanya kekerasan fisik, tapi juga mental dan pelecehan seksual.

Di umur 13 tahun, Angel menjadi lesbian dengan menjalin hubungan bersama guru di sekolahnya, Lia, seorang perempuan berusia 27 tahun yang menurutnya bisa memberikan kasih sayang layaknya seorang Ibu. Angel pun memilih kabur dari rumah karena sudah tidak tahan lagi dengan segala siksaan dari Mamanya. Dalam pelariannya di Yogyakarta dan Bandung, dia harus bekerja serabutan, dari mulai menjadi perawat anjing, sopir angkot, sampai dengan pengamen jalanan demi mempertahankan hidup.

Di tengah kekacauan hidupnya, Angel mendapat hidayah yang kemudian menjadikannya memeluk Islam. Angel juga bertemu dengan seorang lelaki yang telah mengenalkan dunia baru kepadanya.

Ya, dialah Angel, seorang perempuan yang kini usianya belum genap 19 tahun, cantik, cerdas, tegar, dan telah merasakan hitam-putih kehidupan sambil terus berharap akan dipertemukan dengan orang tua kandungnya. Angel, ke mana lagi kakimu akan melangkah?

Senin, 25 Juni 2012

Lompat Batu di Bukit Matahari

Tradisi lompat batu (fahombo) telah ada di Nias sejak ratusan tahun yang lalu, dan terus dipertahankan hingga saat ini.

Salah satu desa yang masih mempunyai tradisi lompat batu adalah Desa Bawomataluo. Seorang anak yang menjadi guide saya menjelaskan arti nama desa tersebut, yaitu bukit matahari. Memang, desa ini terletak di atas bukit setinggi kurang lebih 270an meter dan jalan yang membelah desa ini segaris dengan perjalanan matahari, dari timur ke barat.

Rumah-rumah di desa ‘Bukit Matahari’ masih berbentuk tradisional. Walaupun beberapa diantaranya sudah ‘terintervensi’ atap seng. Rumah-rumah tersebut berjejer teratur dengan bentuk yang hampir sama.


Di tengah desa, di depan rumah Raja, berdiri batu hampir setinggi dua meter lebih dengan lebar sekitar setengah meter. Nah, di batu inilah para pemuda desa unjuk kebolehan melompatinya.

Dahulu kala, tradisi lompat batu dimaksudkan untuk melatih fisik para pemuda desa sebelum berperang. Latihan fisik tersebut berguna agar dapat melintasi benteng batu yang mengelilingi desa lawan.

Bagi seorang pemuda, kemampuan lompat batu adalah kebanggaan tersendiri. Selain karena harus latihan terus menerus sejak kecil, kemampuan lompat batu juga dimaknai bahwa sang pemuda sudah matang dan dapat membela kampungnya.

Desa Bawomataluo terletak sekitar 15 kilometer dari Teluk Dalam, ibu kota Kabupaten Nias Selatan. Teluk Dalam sendiri berjarak sekitar 120 km dari kota Gunung Sitoli, dimana terdapat Bandar Udara Binaka. Waktu tempuh antara Gunung Sitoli dengan Teluk Dalam sekitar 2 – 3 jam.

Gunung Sitoli dapat dicapai melalui udara menggunakan Wings Air atau Merpati. Jarak tempuh dari Polonia Medan sekitar 50 menitan.

Senin, 18 Juni 2012

Pengalaman Pertama Naik ATR 72-500 Wings Air

Setelah menunggu selama 7 jam di Polonia, plus delay selama 25 menit, akhirnya boarding juga ke pesawat ATR 72-500 Wings Air jurusan Gunung Sitoli, Nias.

Deg-degan ...Soalnya, inilah kali pertama naik pesawat baling-baling.

Ketika akan naik ke pesawat, sempat terkesan dengan tangga pesawat yang sangat mungil. Saat sampai di kabin, saya hitung deretan kursi, ada 4 buah dengan pengaturan AC, dan DF. Kebetulan Saya dapat 16 A. Sejatinya duduk dekat jendela, tapi ternyata sudah ada seorang ibu yang menempati kursi itu, jadi bergeserlah ke 16B.



Interior pesawat mirip banget dengan pesawat-pesawat yang dioperasikan oleh Lion Air, seperti 737-900ER. Tidak heran, karena Wings Air adalah saudara muda dari Lion Air. Demikian pula dengan instruksi keselamatan yang dibawakan oleh flight attendant, juga hampir sama.

Tibalah waktunya untuk take off .... Rasanya sama saja dengan pesawat jet, bedanya pesawat ini lepas landas lebih cepat, karena memang hanya butuh landasan pendek untuk take off dan landing.

Pesawat kemudian terbang di ketinggian 14 ribu kaki. Sempat terjadi beberapa manuver, sepertinya menghindari awan. Alhamdulillah, cuaca hari itu cerah sehingga sedikit guncangan.

Di tengah perjalanan, pilot keluar dari cockpit, dan berjalan ke belakang. Tampaknya menyampaikan instruksi ke flight attendant. Surprise juga rasanya, soalnya saat itu pesawat terbang dengan satu pilot. Untunglah, tidak berapa lama pilot kembali ke posisinya.

Setelah sekitar 50 menit perjalanan, pesawat mulai menurunkan ketinggian. Beberapa saat kemudian pesawat mendarat di Bandara Binaka Gunung Sitoli.